banner 728x250

Peringati Hari Kartini 2026, MI Tarbiyatussibyan Brangkal Tanamkan Nilai Keberanian dan Pentingnya Pendidikan Sejak Dini

Bojonegoro, — Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali menundukkan sejenak ingatan dan hati untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini, sosok perempuan yang menyalakan cahaya di tengah gelapnya keterbatasan.

Kartini bukan sekadar nama dalam lembar sejarah. Ia adalah nyala semangat yang melampaui zamannya—sebuah keberanian yang menembus dinding tradisi dan ketidaksetaraan gender.

Lahir pada tahun 1879 di Jepara, Jawa Tengah, ia tumbuh dalam lingkungan feodal yang menempatkan perempuan pada ruang yang sempit dan terbatas.

Pada masa itu, pendidikan bagi perempuan adalah kemewahan yang sulit dijangkau. Banyak yang harus menjalani pingitan, mengubur mimpi di usia muda. Namun, Kartini tidak memilih diam. Melalui untaian surat kepada sahabat-sahabatnya di Eropa, ia menuliskan kegelisahan, merangkai harapan, dan menyuarakan luka ketidakadilan yang dirasakan perempuan pribumi.

Pemikiran itu kemudian terhimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang—sebuah karya yang bukan hanya berisi tulisan, tetapi juga cahaya harapan. Di dalamnya, Kartini menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan menuju kebebasan. Bahwa perempuan yang terdidik akan mampu berdiri tegak, berpikir merdeka, dan melangkah setara dalam membangun bangsa.

 

Semangat yang sama kini berusaha dihidupkan oleh Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tarbiyatussibyan di Desa Brangkal Kecamatan Kepohabru Kabupaten Bojonegoro dalam peringatan Hari Kartini.

Melalui kegiatan-kegiatan edukatif, nilai keberanian, semangat belajar, dan kepercayaan diri ditanamkan perlahan namun pasti kepada para siswa, khususnya siswi—sebagai benih masa depan yang kelak akan tumbuh dan berbuah.

Lebih dari satu abad telah berlalu sejak Kartini menuliskan mimpinya. Kini, perempuan Indonesia telah melangkah jauh, menorehkan jejak di berbagai bidang kehidupan. Dari ruang-ruang pemerintahan hingga dunia pendidikan, dari sektor kesehatan hingga gerakan sosial, perempuan hadir sebagai kekuatan yang membawa perubahan.

Namun, perjalanan itu belum sepenuhnya usai. Di sudut-sudut negeri, masih ada perempuan yang berjalan dalam keterbatasan, yang belum sepenuhnya merasakan terang pendidikan, serta masih berhadapan dengan bayang-bayang diskriminasi dan ketimpangan.

Karena itu, semangat Kartini tidak cukup hanya dikenang—ia harus terus dihidupkan. Di tengah derasnya arus zaman, perempuan Indonesia dituntut untuk tetap teguh, berani bersuara, dan tak lelah mengasah diri melalui ilmu dan pengalaman.

Hari Kartini menjadi lebih dari sekadar peringatan; ia adalah ruang refleksi, pengingat bahwa setiap perempuan menyimpan cahaya dalam dirinya. Dengan keberanian, keteguhan, dan semangat belajar yang tak pernah padam, perempuan Indonesia akan terus melangkah, membawa terang—bagi dirinya, keluarganya, dan masa depan bangsa.

Selamat Hari Kartini tahun 2026. Teruslah menjadi perempuan yang tangguh, berani, dan berpendidikan, sebagaimana semangat yang telah diwariskan dan akan terus hidup dari generasi ke generasi.*(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *