
Bojonegoro ,Skalaberita.i-News.Site// – Sebuah spanduk putih bertuliskan kalimat singkat namun mencuri perhatian tiba-tiba muncul di pagar bangunan di salah satu jalan protokol Kota Bojonegoro dalam beberapa hari terakhir.
Kemunculannya tanpa pemberitahuan membuat sejumlah pengguna jalan berhenti sejenak untuk membaca dan mencoba memahami pesan yang disampaikan.
Tulisan pada spanduk tersebut berbunyi:
“KOTA LENGO TAPI KLENGA KLENGO.”
Kalimat itu terlihat sederhana, namun memunculkan kesan kuat dan terbuka terhadap berbagai tafsir. Tidak adanya nama, logo, maupun keterangan tambahan membuat pesan tersebut terasa lebih berani sekaligus misterius.
Istilah “lengo” selama ini telah melekat sebagai identitas Bojonegoro, yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak di Indonesia.
Kata tersebut kerap diasosiasikan dengan kekayaan sumber daya alam, potensi ekonomi besar, serta harapan akan kesejahteraan masyarakat.
Namun, frasa “klenga-klengo” yang disandingkan setelahnya menghadirkan makna kontras.
Dalam percakapan sehari-hari, istilah tersebut sering digunakan untuk menggambarkan kondisi kebingungan, ketidakjelasan arah, atau situasi yang berjalan tanpa kepastian.
Perpaduan dua kata ini seolah merangkum kegelisahan yang mungkin dirasakan sebagian masyarakat: bagaimana daerah dengan sumber daya melimpah masih dihadapkan pada berbagai ketidakpastian, baik dalam arah pembangunan maupun pemerataan kesejahteraan.
Salah seorang pengguna jalan yang enggan disebutkan namanya mengaku penasaran saat melihat spanduk tersebut. Ia bahkan sempat berhenti untuk membaca lebih dekat.
“Saya tertarik dengan tulisannya, tapi tidak tahu siapa yang memasang. Kebetulan lewat, jadi berhenti sebentar untuk melihat,” ujarnya.
Menurutnya, kalimat dalam spanduk tersebut memang singkat, namun mengundang pertanyaan. Ia menilai setiap orang bisa memiliki penafsiran berbeda, tergantung sudut pandang masing-masing.
Keberadaan spanduk ini mungkin hanya berupa selembar kain di ruang terbuka.
Namun, pesan yang disampaikan terasa melampaui bentuk fisiknya. Ia seolah menjadi representasi suara anonim yang selama ini mungkin hanya beredar dalam percakapan terbatas, kini hadir di ruang publik.
Tidak ada pihak yang secara langsung disasar. Tidak pula terdapat tuduhan eksplisit.
Meski demikian, nuansa sindiran tetap terasa—halus, namun mengena.
Di sisi lain, tidak menutup kemungkinan bahwa tulisan tersebut hanyalah bentuk ekspresi spontan atau bahkan gurauan semata. Tanpa kejelasan mengenai siapa pembuat dan apa tujuannya, spanduk ini berada di antara dua tafsir: kritik sosial atau hanya permainan kata.
Hingga saat ini, belum diketahui siapa pihak yang memasang spanduk tersebut maupun berapa lama akan bertahan di lokasi. Namun yang jelas, kehadirannya telah berhasil menarik perhatian serta memantik diskusi di tengah masyarakat.
Kini, pertanyaan yang muncul bukan hanya tentang siapa pembuatnya, tetapi juga bagaimana respons yang akan diberikan—apakah akan dianggap sebagai pelanggaran ketertiban, atau justru dibaca sebagai sinyal adanya kegelisahan yang mulai disuarakan secara terbuka. (*)


