banner 728x250
Opini  

Ketika Akal Ditinggalkan, Adab Dikorbankan

Skalaberita.i-news.site- // Kita hidup di era ketika popularitas diukur dari jumlah pengikut, dan keberhasilan direduksi menjadi capaian materi. Kepintaran kerap kalah oleh kebisingan, sementara adab tersingkir oleh ambisi untuk tampil. Ukuran kebenaran pun mengalami distorsi: yang viral dianggap benar, yang populer dianggap bernilai.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan sosial, melainkan gejala kemunduran cara berpikir. Ketika pengakuan lebih diutamakan daripada kebenaran, akal tidak lagi berfungsi sebagai penuntun, melainkan sekadar alat pembenaran. Informasi diterima tanpa saringan, disebarkan tanpa pertimbangan, dan diyakini tanpa proses berpikir yang memadai.

Akibatnya, kebodohan tidak lagi tampak sebagai ketiadaan ilmu, melainkan kegagalan menggunakan akal. Ironisnya, kebodohan jenis ini sering tampil percaya diri—berbicara lantang, menolak koreksi, dan merasa paling benar tanpa dasar yang kuat. Ruang publik pun dipenuhi suara yang keras, tetapi tidak selalu benar.

Gejala ini mudah ditemukan dalam kehidupan digital sehari-hari: penyebaran hoaks tanpa verifikasi, perdebatan yang berubah menjadi serangan personal, hingga budaya pamer yang mengaburkan nilai sejati dari pencapaian. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang bertukar gagasan justru kerap berubah menjadi arena saling menjatuhkan.

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah hilangnya adab. Perbedaan pendapat tidak lagi dikelola dengan kedewasaan, melainkan dibalas dengan ejekan dan kebencian. Kebebasan berekspresi kehilangan maknanya sebagai kebebasan yang bertanggung jawab. Dalam kondisi ini, kebenaran sekalipun bisa disampaikan dengan cara yang melukai.

Padahal, dalam ajaran Islam, akal dan adab merupakan dua pilar yang tidak dapat dipisahkan. Akal membimbing manusia menuju kebenaran, sementara adab menjaga agar kebenaran disampaikan dengan cara yang benar. Tanpa akal, manusia mudah tersesat. Tanpa adab, kebenaran kehilangan kemuliaannya.

Ungkapan yang dinisbahkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib patut direnungkan kembali: tidak ada kekayaan yang lebih bermanfaat daripada akal, tidak ada kemiskinan yang lebih berat daripada kebodohan, dan tidak ada warisan yang lebih baik daripada adab. Namun hari ini, ketiganya kerap diposisikan terbalik.

Kita menyaksikan bagaimana kecerdasan tidak selalu dihargai, sementara sensasi justru dipuja. Etika dipinggirkan. Keberanian tanpa batas disalahartikan sebagai kejujuran. Jika kondisi ini terus dibiarkan, yang lahir bukanlah masyarakat maju, melainkan masyarakat yang kehilangan arah.

Dunia pendidikan pun tidak luput dari persoalan ini. Ketika keberhasilan hanya diukur dari angka dan prestasi formal, pembentukan karakter sering terabaikan. Kita mungkin menghasilkan individu yang cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral. Ini merupakan ancaman yang jauh lebih serius daripada sekadar ketertinggalan materi.

Karena itu, mengembalikan akal dan adab bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Upaya ini dapat dimulai dari hal-hal sederhana: membiasakan klarifikasi sebelum menyebarkan informasi, mengedepankan etika dalam perbedaan pendapat, serta menanamkan literasi digital yang kritis dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah seberapa jauh kita telah maju, melainkan ke mana arah kemajuan itu membawa kita. Sebab tanpa akal yang sehat dan adab yang terjaga, kemajuan hanya akan menjadi ilusi—terlihat gemilang, tetapi rapuh dan kehilangan makna.*(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *