
Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, masyarakat di berbagai daerah di Jawa, khususnya Bojonegoro, masih melestarikan sebuah tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan Colok–colok Malam Songo. Tradisi ini dilaksanakan pada malam ke-29 Ramadan, sebagai penanda mendekatnya Hari Raya Idul Fitri yang penuh kemenangan.
Tradisi ini bukan hanya sekadar ritual tahunan, melainkan juga menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan kekuatan nilai-nilai kearifan lokal yang terus dijaga dari generasi ke generasi. Selain malam songo, masyarakat juga mengenal malam selikur (malam ke-21 Ramadan) yang memiliki nuansa serupa.
Rangkaian Tradisi yang Sarat Makna
Pelaksanaan tradisi dimulai setelah salat Magrib. Warga berbondong-bondong membawa berkat atau tumpeng yang berisi aneka makanan dan jajanan menuju titik kumpul seperti rumah kepala dusun atau perempatan desa. Di sana, sesepuh kampung memimpin doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas ibadah puasa yang telah dijalani selama satu bulan penuh.
Salah satu ciri khas utama dari tradisi ini adalah penggunaan colok atau obor. Dahulu, colok dibuat dari bambu dengan sumbu kain yang dicelupkan ke dalam minyak tanah, lalu dipasang berjajar di sepanjang jalan desa hingga ke depan rumah warga. Cahaya dari obor-obor ini menciptakan suasana hangat, sakral, dan penuh keindahan.
Seiring perkembangan zaman, sebagian masyarakat mulai mengganti colok tradisional dengan lilin atau lampu listrik. Meskipun demikian, makna simbolis dari cahaya sebagai penerang dan harapan tetap terjaga.
Semarak Arak-arakan dan Kebersamaan
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak dan para pemuda juga turut memeriahkan tradisi ini dengan mengarak obor keliling kampung. Mereka melantunkan takbir dan sholawat, menciptakan suasana religius yang menggugah hati sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.

Setelah doa bersama selesai, tumpeng yang telah dibawa kemudian dibagikan kepada sesama warga. Tradisi saling bertukar makanan ini menjadi wujud nyata dari nilai berbagi, kebersamaan, dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Simbol Kearifan Lokal yang Perlu Dilestarikan
Tradisi Colok–colok Malam Songo tidak hanya menjadi bentuk perayaan menyambut Idul Fitri, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa, seperti gotong royong, silaturahmi, dan rasa syukur. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga dalam kebersamaan.
Di tengah arus modernisasi, menjaga dan melestarikan tradisi seperti ini menjadi sangat penting. Meski terjadi perubahan dalam bentuk pelaksanaannya, esensi dan nilai yang terkandung di dalamnya harus tetap dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
Dengan terus dilestarikan, tradisi Colok–colok Malam Songo akan tetap menjadi warisan budaya yang hidup dan menjadi identitas masyarakat Jawa dalam menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita.(*)


