
SIDOARJO, 21 Februari 2026 — Suasana desa Kepadangan, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, tampak berbeda Sabtu sore (21/2). Warga berkumpul di balai desa dengan penuh antusiasme menyambut peristiwa penting yang baru saja berlangsung: peresmian Satuan Pelayanan dan Pemberdayaan Gizi (SPPG)—sarana layanan gizi inovatif untuk mendukung tumbuh kembang anak dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Peresmian ini bukan sekadar seremoni administratif. Hadirnya SPPG menjadi simbol nyata komitmen bersama berbagai elemen masyarakat untuk membangun pondasi kesehatan sejak usia dini. Kegiatan ini dirangkai dengan santunan kepada anak-anak yatim piatu sebagai wujud empati sosial, serta diakhiri oleh buka puasa bersama yang mempererat solidaritas antarwarga.
Acara peresmian dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, unsur TNI-Polri, perwakilan legislatif, hingga pendidik setempat. Kehadiran lintas sektor ini mencerminkan dukungan kuat terhadap upaya peningkatan kualitas hidup serta kesejahteraan keluarga di desa Kepadangan.

Dalam sambutannya, Camat Tulangan, Moch. Andi Sulistiono, menggarisbawahi pentingnya aspek gizi dalam pembangunan manusia. Menurutnya, pembangunan fisik saja tidak cukup; kualitas sumber daya manusia, terutama generasi muda, harus menjadi prioritas.
SPPG ini bukan sekadar bangunan, tetapi investasi masa depan bagi anak-anak kita. Ketika mereka mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang, kita sedang menyiapkan generasi yang kuat, sehat, dan siap menghadapi tantangan zaman,” ucapnya penuh keyakinan.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program ini tak lepas dari kolaborasi berbagai pihak — mulai dari perangkat desa, pendidik, aparat keamanan, hingga relawan masyarakat — supaya eksekusi di lapangan berjalan mulus dan tepat sasaran.
Salah satu momen paling dinanti adalah pengumuman resmi tentang peluncuran program Running MBG (Makan Bergizi Gratis). Mitra SPPG, Hj. Nurul Aini, S.H., memastikan bahwa program ini akan dimulai efektif pada 23 Februari 2026.

Menurut Hj. Nurul Aini, MBG dirancang untuk memberikan makanan yang bergizi, terukur, dan sesuai standar kebutuhan gizi harian bagi anak-anak usia sekolah serta kelompok rentan lainnya. Tujuan utamanya adalah memastikan tidak ada lagi anak di Desa Kepadangan yang tumbuh dengan kekurangan gizi.
Pengelolaan program akan dilakukan secara terkoordinasi sehingga distribusi makanan tidak hanya sekadar sampai di sekolah, tetapi juga benar-benar dikonsumsi sesuai kebutuhan — memberikan manfaat maksimal untuk kesehatan dan perkembangan anak.
Tidak kalah penting, pengurus yayasan setempat, Sulaiman, S.Sos, dalam keterangannya menegaskan bahwa SPPG dan MBG tidak cukup berjalan sebagai program kesejahteraan semata. Menurutnya, tata kelola yang terbuka, transparan, dan profesional harus menjadi landasan, sehingga masyarakat merasa benar-benar dilibatkan dan termotivasi untuk turut berperan aktif.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan program akan sangat bergantung pada partisipasi masyarakat sendiri — baik tenaga pendidik, orang tua, maupun relawan, sehingga upaya bersama mendorong generasi sehat menjadi langkah nyata daripada sekadar jargon.
Kegiatan santunan bagi anak yatim piatu juga menjadi salah satu titik emosional dalam pertemuan itu. Wajah-wajah polos anak-anak yang menerima bantuan disambut tepuk tangan dan doa dari seluruh hadirin, menjadi pengingat bahwa program pembangunan sejati tidak hanya berbicara soal angka, tetapi juga tentang rasa kemanusiaan.
Acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama, di mana seluruh elemen yang hadir — dari aparat hingga warga — duduk bersama dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Ini bukan sekadar formalitas, tetapi refleksi kuatnya semangat kebersamaan untuk mencapai tujuan bersama: generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya tinggi.




