banner 728x250
Daerah  

Haul ke-516 Sunan Drajat: Harmoni Ibadah dan Aksi Sosial Menghidupkan Dakwah Kepedulian

Peringatan haul ke-516 Kanjeng Sunan Drajat berlangsung khidmat sekaligus meriah. Tidak sekadar menjadi agenda ziarah tahunan, rangkaian kegiatan yang digelar sejak pra-acara hingga puncak haul mencerminkan pengamalan ajaran kepedulian sosial yang diwariskan Raden Qosim, salah satu waliyullah besar anggota Wali Songo.

Berbagai kegiatan sosial telah dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian haul. Pada 7 Februari 2026, panitia menyelenggarakan sunat massal dan santunan bagi anak yatim. Kegiatan ini disambut antusias oleh masyarakat. Anak-anak peserta sunat massal tampak didampingi keluarga dengan penuh doa dan dukungan, menciptakan suasana haru sekaligus penuh semangat.

Di waktu yang sama, penyaluran santunan kepada anak-anak yatim menjadi momen yang sarat makna. Senyum dan kebahagiaan mereka menjadi cerminan nilai kemanusiaan yang terus dijaga, sebagaimana pesan Sunan Drajat yang menekankan pentingnya menolong kaum lemah dan mereka yang membutuhkan.

Sunan Drajat dikenal luas dengan metode dakwah bil hal, yakni menyampaikan ajaran Islam melalui perbuatan nyata. Falsafah hidup beliau—memberi makan yang lapar, melindungi yang tertindas, membimbing yang lemah, serta memuliakan sesama—menjadi landasan utama pelaksanaan berbagai kegiatan sosial dalam peringatan haul tahun ini.

Puncak acara haul digelar pada tanggal 14, di mana ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati kompleks makam Sunan Drajat. Doa bersama, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta lantunan shalawat mengiringi pengajian yang berlangsung penuh kekhusyukan, mempererat ikatan spiritual antarjamaah.

Koordinator pelestarian sejarah Sunan Drajat, Luqman Hakim, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan haul dirancang untuk membumikan kembali ajaran sosial Sunan Drajat dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Haul ini bukan sekadar mengenang, tetapi juga mengajak masyarakat untuk mengamalkan nilai-nilai yang diajarkan beliau. Aksi sosial yang dilakukan menjadi wujud nyata kepedulian tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Luqman Hakim yang juga merupakan keturunan sekaligus juru kunci Sunan Drajat menjelaskan bahwa jejak perjuangan Sunan Drajat terdokumentasi dalam manuskrip kuno yang diwariskan turun-temurun sejak masa kolonial Belanda. Manuskrip tersebut hingga kini masih tersimpan dan terawat di Rumah Ndalem Raden Qosim Sunan Drajat.

Secara historis, kiprah Sunan Drajat mendapat legitimasi dari Kesultanan Demak. Pada tahun 1484 Masehi, Sultan Raden Fatah menetapkan beliau sebagai penguasa tanah perdikan Drajat dengan gelar Sunan Mayang Madu, menandai peran penting beliau sebagai pemimpin spiritual sekaligus tokoh sosial.

Peringatan haul ke-516 ini menjadi bukti bahwa warisan ajaran Sunan Drajat tetap relevan hingga kini. Sinergi antara kegiatan keagamaan dan aksi sosial menunjukkan pesan dakwah beliau tentang keseimbangan antara spiritualitas dan kepedulian kemanusiaan.

Melalui haul ini, masyarakat diajak tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga meneruskan semangat berbagi, persaudaraan, dan kepedulian sosial yang menjadi inti ajaran Sunan Drajat—nilai luhur yang terus hidup lintas generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *